Bukit abah Klungkung 



Bukit ini bisa di gapai dari desa besan, nanjak 5 km dulu dengan ketinggian 800m, kondisi jalan rusak dan hanya kendaraan warga lokal yang lalu lalang. 

Tumben saya lihat jalan di bali seperti ini, nggak ada pur, nanjak terus.

Kalo tanjakan asah goblek jalan mulus ramai kendaraan dan masih ada pur. 

Keringat bercucuran, berkali2 berhenti menenangkan nafas, !

Osila sebagai orang asli desa besan mengantar kami dengan motor sampai di puncak. Dia memang Guide lokal yg cerdas. Katanya ini tempat dia latihan sepeda juga.


Pekak Taek yg baru sembuh 3 minggu lalu maksa mau ikut karena katanya jaraknya dekat, iya memang dekat 25 km, nanjak nuntun turun juga nuntun. Sampai keesokan harinya Pekak bilang tidak bisa jalan, sangat pegel. 


Putu Raka tombajil masih eksis dengan kuatnya dia nanjak selalu terdepan. Linud yg semalam sebelumnya tidur jam 3 pagi sudah poyok di tanjakan di bawah. 

Di atas bukit putu membeli arak sambil kita sarapan telur rebus dan Osila sambil wawancara pembuatan arak.  

Lanjut naik sedikit melintasi bukit di depan, stok air minum sudah habis, untung putu punya teman jadi kita mampir minta air kelapa 5 butir. Hanya dengan air kelapa dan isinya itu kita bertahan di perbukitan indah itu. Ada juga bekal kue2 circleK. 


Tiba di puncak, lama sekali kami di atas. Kesyab ada view bagus di atas. Si Pekak sudah nyari teduh di bawah pohon kecil, kita pun memutuskan turun ke desa tri Eka buana sidemen Karangasem. Perbukitan itu jarang di lintasi orang, semak-semak banyak, sepanjang jalan putu Raka sudah menghilang di depan. Di tengah perjalanan itu aku berpikir, bener ada jalan nya ini. 

Istirahat lagi di depan  dengan rasa haus, si pekak walau haus terus saja bercerita apa saja. Ceritanya membuat ku lupa akan kekhawatiran jalan di depan. 


Pas nemu jalan turun pun kami mesti nuntun lagi. Sangat terjal. Apalagi si Pekak pakai ban road. Sampai akhirnya ketemu warga lokal yg mencari kayu bakar, baru ada rasa lega ternyata jalan ini tembus. 


Sempat di sebuah turunan Pekak jatuh jungkir balik sampai stang sepedanya bengkok. Aku malah tertawa melihat dari belakang. Pekak aman tanpa luka. Cuma pegel aja sekarang. 


Sampai nemu desa langsung mampir ke Warung beli air minum. Lanjut ke jalan raya sidemen dan menuju tukad Unda untuk berendem. 

XC sudah berakhir dengan mandi di sungai Unda dan lunch jam 5 sore di Senggol Klungkung menu sate kambing, daluman, srombotan. 

Balik denpasar dengan mobil dan ketemu Dita dulu di Sanur sambil Happy time ! 

Noted : jalur ini bagus buat latihan sebelum climb  track ke Bromo atau Flores. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s