Gowes Malam berdua masih amam di bali


Selasa sore 11 oct 2016 – lepas kerja jam 5 sore gowes ke Bukit Jimbaran bertemu tongbajil guna mengganti ban road bike yg dipakai Dita, 

Sebelum ngumpul, Kita beli nasi jinggo 4 bungkus, Dita makan 1, Maha makan 2, dan anjing di Rumah makan 1. Mau Nya Kita kasi tongbajil tapi dia pengen makan bakso. Akhirnya Kita nongkrong di network coffe sampai jam 10 Malam. 

Kami sadar Harus Pulang gowes Lagi menuju gatsu Tengah Dalam keadaan perut penuh dan sedikit mengantuk. 

Kayuhan pedal kami pelan tapi pasti, melintasi Malam sejuk Badung-denpasar. Akhirnya tiba di Rumah jam 11.30 Malam. Aman Tanpa Copet perjalanan kami. 

Susur sungai Kota Denpasar dengan sepeda. 


Guys tahu kah kalian, ketika Harus setiap hari melintasi rute denpasar- tuban, maka Aku mencari2 jalan sepi masuk gang-gang demi menghargai paru-paru ini. 

Rute Nya bisa start dari Selatan Banjar alangkajeng yang Ada tikungan itu masuk ke selatan- susurin jalan timur pinggir sungai – terus masuk gang- sampe mentok tembus di pura candì Narmada deketnya simpang siur mol bali galeria. 

Asik lah jalanya. Mumet lewat kemacetan semi Jakarta Nya bali. 

Berusaha bike to work mumpung belum nikah dan beranak. 

Tolak reklamasi Teluk Benoa Bali. 

25 September 2016, 

Minggu Pagi yg mendung Aku menolak ajakan bersepeda Demi ngayah kepada tanah Bali. Tidak rela laut di timbun demi demi dan demi. 

Tanah Bali masih Luas, kenapa tidak bangun keinginan mu di Daerah Karangasem Atau Buleleng yang masih banyak tanah luas, mendung Bali sempet kayak Singapore Baru je reklamasi. 

Uh semua berkata demi Pariwisata uang dan devisa Negara. 

Berjalan 10 km dengan sandal Eiger ternyata tidak Nyaman. Ada sedikit luka. Memang mesti ha pake sepatu ket. 

Ok. Lah. Hidup Alam Bali. 

Nemu rujak enak di Denpasar 


Cerita ini berawal ketika aku berjalan kaki jam 11 siang menuju 10 km ke tempat pengambilan sepeda, cek GO-JEK bayar 20km jadi pilih jalan kaki, selama perjalanan ternyata mampir ke tempat mie ayam buat lunch, Panas-polusi Kota Denpasar, nyampe sekitar kreneng liat Warung kecil ada menu rusak, mumpung Panas cetar, rujakan pilihan tepat! Rasanya mantap dan murah Cuma 5 rb sepiring, alamak akhirnya pesan GO-JEK juga bayar 13rb Sudah. 

2 jam itu aku cobakin mia ayam arema sebelah apoktek anugrah gatsu, Cuma dagang Nya Taruh 2 sendok fitsin semangkuk, duh fitsin oh fitsin 

Aku senang nemu langganan tempat rujak itu, yihhaaaaa

Hal-hal unik yang ada di Pasar Mentigi Nusa Penida. 

Pagi itu 13 September 2016 langit mendung. Pasar Mentigi adalah pasar terbesar di pulau ini dan berlokasi di desa Batununggul pinggir pantai. Setelah explore selama 1 jam_an maka ini hal-hal unik menurut versiku : 


Penjual ayam aduan ini biasanya sudah ada dari jam 4 pagi sampai jam 9/10 pagi. Harga ayam dengan bobot bagus sekitar Rp 200.000.

  Jajan bali yang terdiri dari : pisang rai, ongol-ongol, laklak, wati dan bubuh sumsum serta ditaburi parutan kelapa dan gula merah. Harga sebungkus Rp 2.000, kualitas rasa recommend lah. 
Benda ini bernama endongan dan hanya digunakan saat hari raya Kuningan di Bali. Secara garis besar sebagai simbol tas penampung makanan saat berperang. Harga Endongan Rp 2500 sebiji.


Kacang pendek ini baru aku lihat dan dengan harga Rp 5000 seikat. Aku kira hanya ada kacang panjang ternyata ada pula kacang pendek. 


Daun Pandak alias daun pandan digunakan sebagai pelengkap sesaji canang sari sering disebut kembang rampe, harga murah lah ya Rp 3000 seikat.


Ini adalah daun ron alias daun pohon jaka bermanfaat sebagai alas canang sari walau harganya Rp 500 seikat. 


Kalo ikan pindang sudah populer lah, kaya akan protein dan harganya agak mahal ya Rp 7500 seekor. 


Jajanan bali harga Rp 5000 dapet 7 jenis, diantaranya sumping, bantal, uli, lapis, apem dan pisang nangka. 


Makanan ini yang paling fenomenal yaitu ledok, bubur dengan campuran jagung dan sayuran. Menurut ku ini cara masyarakat dulu untuk menghemat penggunaan beras. 


Foto terakhir ini adalah makanan favorite ku kalo datang ke pasar Meringgi. Tipatnya pulen dengan sayur nangka, sate lilit ikan laut, kuah ikan dan pepes ikan dengan rasa yang luar biasa. Sepiring harganya Rp 12.000.

Intinya setiap pasar tradisional memang memiliki hal unik bagi setiap pengunjung yang datang. 

Kutemukan Langit Biru di Pasih Huug dan Pasih Andus. 


Hari ini udara terasa panas yang berarti bahwa perjalanan ini dipenuhi warna biru. Nyebrang dari Sanur dengan fast boat dan turun di pelabuhan Toyapakeh. Akomodasi sewa motor dan mobil bisa ditemui dengan mudah di area pelabuhan. Perjalanan pertama menuju pantai-pantai tersembunyi dan berbekal nasi kotak. Sepanjang jalan tampak pepohonan dengan tekstur tanah kering dan kondisi jalan yang sempit dan rusak di bagian tertentu. Ketika ada mobil dari arah berlawanan maka mesti mengalah salah satu mundur perlahan. 


Waktu tempuh 1 jam_an dengan mobil akhirnya bisa menikmati pasih Huug. Pantai ini sedang populer dan banyak pengunjung yang datang walau lokasinya jauh di ujung pulau. Sudah ada beberapa warung di sekitar obyek, dan menjual minuman dingin serta camilan. Baru masuk pantai sudah ada palang bertuliskan “Tanah ini milik PT. Premium Property dan tidak di jual” yang artinya jika nanti sudah mendapat izin maka area ini menjadi private. 


200 meter dari Pasih Huwug ada spot yang disebut Angel Bilabong, warga lokal bercerita sekitar 6 bulan lalu ada hembusan ombak yang mendorong orang sedang berendam sampai akhirnya meninggal. Deburan ombak yang sering disebut waterblow ini memang cantik, tapi beberapa orang yang nekat malah berenang di area itu demi keindahan foto. 


Tak jauh dari sana ada pula spot yang bernama Pasih Andus alias water blow tinggi. Momen ombak muncrat ke atas menjadi daya tarik utama di tengah terik matahari. Hanya ada 1 pohon pandan berduri yang menjadi peneduh ketika itu, wah berasa banget deh terik menyengat. 


Tak lupa rehat di cristalbay liat sunset sambil minum air kelapa. Mantap deh. Saat ini memang kondisi jalan ke obyek-obyek ini masih rusak, kedepannya semoga segera membaik. 

Holiday menyenangkan ke Dolphin Lovina- Sapi Gerumbungan dan twin Lake

Mengejar lumba-lumba ke tengah laut bisa disaksikan di lovina, kebanyakan orang melihatnya di pagi hari karena bisa lihat sunrise dan udara masih sejuk, adapula yang melihat di sore hari sekaligus sunset_an di tengah laut menunggu lumba-lumba muncul. 
Ini adalah pengalaman pertama ku mengejar lumba-lumba di Lovina, wajib bangun jam 5 pagi dan aku mendapat suguhun sunrise yang luar biasa dari alam. Walau momennya hanya sekian menit tapi kebahagiaannya berasa sampai sekarang. Ditemani Pak Ketut Mangku yang menjadi tukang jukung saat itu, jukung miliknya ada tempat duduk khusus yang membuat nyaman penumpang. Tak lupa selfie dulu sebelum berangkat, langsung upload dong karena di tengah laut pun ada signal yang memadai. 


Baru saja tiba di spotnya sudah ada lumba-lumba yang muncul, video dan foto langsung keluar mengingat momen langka di minggu pagi. Setelah rasanya puas kejar-kejaran maka momen snorkeling menyenangkan dimulai, lovina adalah lautan yang arusnya tenang, jukung tetap setia parkir di dekat kami snorkeling, asiklah pake lifejacket mengapung-apung di permukaan laut dangkal. Maka aktivitas pagi itu kami tutup dengan breakfast mewah di Sunari resort.


Siang itu ada sebuah pertunjukan seni bali yang disebut Sapi Gerumbungan, walau acara jam 2 siang, semangat ini tetap ada demi menggali informasi dari warga dan memenuhi hasrat rasa ingin tahu. Baru masuk lapangan pertunjukan sudah langsung menyebar foto-foto setiap momen walau di beberapa titik ada kotoran sapi yang baru keluar, maklumlah mereka sudah siaga dari jam 12 siang. Banyak hal unik yang bisa dilihat misalnya wajah dan leher sapi dielus-elus agar tidak galak, ekor sapi ditekan-tekan ke atas agar ketika tampil berlari dengan ekor tegak melengkung, dan pemilik sapi sesekali memegang kelamin sapi. Salah seorang peserta lomba bercerita bahwa sebelum lomba dia melatih sapinya untuk berlari dan menghias sapinya dengan atribut kesenian. 

Dalam acara Sapi Gerumbungan ini yang menjadi kriteria penilaian adalah gerakan sapi berlari dengan kepala mendongak dan ekor berdiri, ketepatan arah dan seni berlari. Wah ternyata bukan kecepatan berlari yang menjadi pemenang yah. 


Walau waktu yang sedikit untuk melihat sapi gerumbungan tapi lumayan sudah menginspirasi. Selama perjalanan pulang ke Kuta, tak lupa mampir ngopi di pinggir danau Tamblingan-Buyan. Minum kopi bali plus pisang goreng dalam suasana itu berasa nyaman banget deh. Ingin lama-lama duduk disana menikmati anugrah alam semesta. #pesonaIndonesia #wonderfulIndonesia