Asal tau aja, bahwa bali krisis air. By ibu Viebeke


Krisis air di Bali belum sepenuhnya di pahami oleh masyarakat berbagai strata.
Banyak hujan, bor sumur kan banyak air

Kemarin tgl 11 pdam tutup banyak yang bilang aduh untung saya ada sumur bor jadi air ngecor. Padahal sumur bor itu salah satu penyebab krisis air.

Krisis air di Bali itu karena persediaan air tinggal 20% saja 

Solusinya harus dengan sumur recharge langsung ke palung palung air dan ini butuh dana besar untuk meneliti dimana palung paling di seluruh Bali

Lapisan tanah juga kering maka air hujan tidak langsung menyerap

Solusinya buat biopori sebanyak banyaknya dan di halaman besar buat sumur gali seperti banbang jaman dulu jadi air tidak mengalir semua ke sungai dan ke laut tapi di serap di tanah.

(Penyebabnya juga karena over pembangunan) 
Pemerintah belum sekata ada yg belum mengakui krisis air (kurang piknik)

Di Bali ada 11 lembaga yg mengurus air jadi bayangkan kisruh ya. Tidak adanya water governance mengakibatkan poor management.
Kebutuhan satu turis di bali rata rata 2000 liter perhari (kamar 400 dollar : 4000 liter perhari per oranga; kalau 59 dollar: 1000 liter per orang) sedangkan kebutuhan dasar per orang di Bali kalau layak hidup sehat dan bersih itu sekitar 180 liter per hari perorang.

Sedangkan di Bali ini apalagi di daerah miskin potensi dan kekurangan air perorang rata rata 14 liter saja.

Pemerintah selaku pemegang kewajiban (duty bearer) perlu mengelola air supaya air terjangkau (paling jauh 1 kilo), air sehat tidak berbakteri; dan tidak boleh lebih dari 3% dari pendapatan.

Di Bali air di sedot utamanya oleh industry pariwisata (hotel, spa, laundry, wisata air spt waterbom) jadi rebutan dengan subak (dampaknya terhadap ketahanan pangan) 

Penjual air minum galon juga misalnya dan termasuk air isi ulang (bisa berbakteri juga).

Ini semua dampaknya ke sosial lingkungan stabilitas – menimbulkan konflik (mis. Hotel lawan populasi)

Solusi yg di tawarkan diatas itu: sumur recharge, sumur resapan dan biopori; bisa sangat mengurangi /menyelesaikan masalah krisis air. Di tambah lagi kalau kita mau menampung air hujan, biasakan saja menampung sombah di ember untuk di pake ngepel, cuci motor mobil nyiram dll.
Perlu management air (pemerintah) terpadu yg serius efektif bukan egosentris ke budget dan tupoksi masing2
Perlu juga mengendalikan para pebisnis dan mereka ikut bertanggung jawab.

Perempuan posisinya paling susah karena perlu menyediakan air untuk keluarganya. Di dusun dusun perempuan jalan kaki 3 kilo sd 6 kilo untuk cari se ember air untuk cuci masak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s